Mengolah sampah dengan baik untuk kelestarian lingkungan

Mengolah sampah dengan baik untuk kelestarian lingkungan

Cara Mengolah Sampah dengan Baik

Memproses sampahSetiap hari berton-ton sampah dihasilkan dari pasar, kegiatan pertanian, rumah tangga dan industri. Bila kita tidak bisa mengolah timbunan sampah ini dengan baik, bermacam-macam permasalahan bisa timbul.

Bila dipilah dari onggokan sampah itu bisa ditemukan bahan organik yang asalnya dari jasad hidup, misalnya tumbuhan dan hewan beserta kotorannya. Sampah seperti ini sering disebut dengan sampah lapuk atau garbage. Sedang jenis sampah yang lain disebut rubbish. Sampah yang tergolong rubbish ini adalah sampah yang tidak mudah lapuk atau bahkan tidak bisa lapuk. Penanganan kedua jenis sampah ini tentu dengan proses yang berbeda.

Untuk membantu permasalahan sampah yang bisa bikin pusing banyak pihak, ada beberapa cara pemusnahan dan pemanfaatan yang bisa dilakukan. Pemusahannya bisa dengan cara penimbunan tanah (landfill), penimbunan tanah secara sehat (sanitary land fill), pembakaran sampah (incineration), penghancuran (pulverization) dan pengomposan (composting).

Mengolah sampah dengan menjadikannya kompos dan briket arang sampah merupakan alternatif pemanfaatan sampah yang bisa dikerjakan semua orang. Dengan memaparkan secara ringkas cara pemanfaatan sampah dalah artikel ini, kami berharap artikel ini bisa bermanfaat.

Pengelompokkan Sampah

Dalam batasan ilmu pengetahuan, sampah yang dalam bahasa inggrisnya disebut dengan waste pada dasarnya mencakup banyak pengertian. Sampah, alias waste tadi adalah zat-zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, baik berupa bahan buangan yang berasa dari rumah tangga maupun dari pabrik sebagai sisa proses industri.

Berdasarkan sumbernya, dikutip dari Jenis.net sampah dapat digolongkan ke dalam empat kelompok, antara lain meliputi :

  1. Human excreta
    Merupakan bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia, meliputi tinja (feses) dan air kencing (urine).
  2. Sewage
    Merupakan air limbah yang dibuang oleh pabrik maupun rumah tangga. Contohnya adalah air bekas cucian pakaian yang masih mengandung larutan deterjen.
  3. Refuse
    Merupakan bahan pada sisa proses industri atau hasil sampingan kegiatan rumah tangga. Nah, refuse inilah yang dalam pengertian sehari-hari kerap kali kita sebut sampah. Contohnya adalah panci bekas, botol bekas, kertas bekas pembungkus bumbu dapur, sendok kayu yang sudah tidak dipakai lagi dan dibuang, sisa sayuran, nasi basi, daun-daun tanaman dan masih banyak lagi. Pokoknya, barang-barang buangan yang kerap kali kita lihat menggunung di tempat sampah di kampung-kampung itulah refuse alias sampah dalam pengertian sehari-hari.
  4. Industrial waste
    Merupakan bahan-bahan buangan dari sisa-sisa proses industri.

Dan karena artikel ni secara khusus ingin membahas tentang mengolah sampah dalam pengertian kita sehari-hari,maka tulisan selanjutnya juga hanya akan menyoroti tentang refuse seperti yang terdaftar dalam kelompok ke-3 diatas.

Sampah refuse ini kemudian dapat dikelompokkan lagi kedalam 2 kelompok, yaitu :

  1. Sampah lapuk (Garbage)
    Sampah golongan ini merupakan sisa-sisa pengolahan atau sisa-sisa makanan dari rumah tangga atau merupakan hasil sampingan kegiatan pasar bahan makanan seperti pasar sayur-mayur. Contoh sampah lapuk adalah potongan-potongan sayuran yang merupakan sisa-sisa sortasi sayur-mayur di pasar, makanan sisa, kulit pisang, daun pembungkus dan sebagainya.
  2. Sampah tidak lapuk dan sampah tidak mudah lapuk (Rubbish)
    Seperti yang tercermin dari anak judul diatas, sampah golongan ini memang dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis. Golongan pertama, sampah tak lapuk. Sampah jenis ini benar-benar tak akan bisa lapuk secara alami, sekalipun telah memakan waktu bertahun-tahun. Contohnya adalah plastik, kaca dan mika.
    Golongan kedua, sampah tak mudah lapuk. Sekalipun sangat sulit lapuk, sampah jenis ini akan bisa lapuk perlahan-lahan secara alami. Sampah jenis ini masih bisa dipisahkan lagi atas sampah tak mudah lapuk yang bisa terbakar, seperti kertas dan kayu dan sampah tak mudah lapuk yang tidak bisa terbakar seperti kaleng dan kawat.

Penampungan dan Pengumpulan Sampah

Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap rumah tangga, sebelum sampah mereka diangkut oleh petugas kebersihan maka sampah-sampah itu mereka tampung dan kumpulkan dalam tempat khusus. Ada yang memanfaatkan bak atau kaleng sebagai wadah atau bahkan hanya berupa tas plastik bekas. Ada pula yang secara khusus telah membuat bak semen sebagai tempat sampah yang permanen.

Penampung sampah tidak harus selalu berupa bak khusus yang terbuat dari batu bata dan semen, sebab tidak setiap rumah tangga bisa menyediakannya. Selain karena anggaran biaya yang harus disediakan cukup besar, juga perlu area khusus untuk membangun bak semen itu, sedikitnya membutuhkan tempat seluas 1 meter persegi. Bahyak bahan murah yang memenuhi syarat sebagai penampung sampah, misalnya tas plastik, karung plastik bekas, bak bekas, drum bekas, kotak bekas dan sebagainya.

Terbuat dari bahan apapun agaknya hal itu tidaklah terlampau penting. Yang pasti, tempat penampung sampah yang baik dan memenuhi syarat kesehatan haruslah :

  1. Mudah dibersihkan.
    Dengan demikian petugas pengumpul sampah tidak akan kesulitan mengeruk kumpulan sampah dari dalam tempat sampah.
  2. Tidak mudah rusak.
    Tempat sampah yang rapuh akan menyebabkan sampah mudah sekali berhamburan ke mana-mana, terutama jika ayam berkerumun dan mengais-ngaisnya.
  3. Bisa ditutup rapat.
    Persyaratan ini harus diperhatikan agar lalat dan kecoa tidak mudah hilir mudik menghinggapi kumpulan sampah.
  4. Ditempatkan diluar rumah.
    Tujuannya selain agar petugas pengumpul sampah mudah mengangkutnya, juga demi menjaga kebersihan di dalam rumah. Kalau tempat sampa diletakkan di luar rumah maka bau tidak sedap tidak akan memenuhi ruangan.

Pembuangan Sampah

Lalu lintas pembuangan sampah sebenarnya terangkai dalam 3 (tiga) alur kegiatan yang saling mengait.

Pada awalnya, setiap rumah tangga menampung sampah-sampah mereka sehari-hari daam tempat-tempat sampah yang mereka miliki. Tak jadi soal, apakah sampah itu ditampung dalam bak sampah khusus ataukah cuma dikemas dalam tas plastik bekas. Tahap ini disebut penampungan sampah (refuse storage).

Dalam waktu-waktu tertentu, misalnya 2 atau 3 hari sekali, petugas kebersihan RT/RW ataupun pemda akan mengumpulkan sampah-sampah itu dari setiap rumah tangga. Dengan gerobak-tarik ataupun menggunakan mobil truk sampah, sampah diangkut ke suatu pusat pembuangan sampah yang sudah disepekati oleh pengurus lingkungan, baik dari RTRW maupun kotamadya. Perjalanan tugas ini biasa disebut pengumpulan sampah (refuse colection).

Tahap terakhir adalah tahap pemusnahan sampah. Caranya bermacam-macam, bergantung pada kepentingan dan pihak mana yang menanganinya. Sebab, sampah yang akan dimanfaatkan untuk menimbun tanah rendah tentu beda penanganannya dengan jika akan dimanfaatkan untuk kompos. Begitu pula teknik penanganannya, akan sangat berbeda antara pemerintah, lembaga usaha swasta dan perorangan atau rumah tangga. Semua langkah ini dalam ilmu lingkungan hidup disebut pembuangan sampah (refuse disposal).

Yang rumit dan paing membuat pusing memang langkah terakhir itu. Sebab, sampah menggunung yang tidak segera ditangani secara sungguh-sungguh akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat. Bagaimanapun, harus diusahakan untuk memusnahkannya.

Cara Mengolah Sampah

Paling tidak ada 7 cara untuk mengolah sampah, yaitu sebagai berikut :

1. Penimbunan Tanah (Land Fill)

Di daerah perkotaan usaha mengolah sampah dengan cara ini sudah lama dilakukan. sampah yang terkumpul bertruk-truk dari rumah tangga dan pasar dimanfaatkan untuk menimbun tanah rendah. Sampah ditimbun begitu saja sampah menggunung, lalu diratakan dan dipadatkan. Setelah ketinggian permukaannya mencapai yang diinginkan penimbunan sampah dihentikan. Hanya saja, tidak semua jenis sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah rendah seperti cara ini. Sebaiknya yang dimanfaatkan sampah jenis rubbish saja (sampah tak lapuk dan sampah tak mudah lapuk), seperti kertas-kertas, potongan kayu, potongan besi dan seng atau kaleng besar. Sebab kalau sampah itu bercampur dengan garbage (sampah lapuk) yang sangat mudah membusuk akan berbau setelah beberapa hari dibuang, bisa dibayangkan bagaimana ramainya binatang-binatang kotor akan mengerumuninya. Tikus, keoa, lalat, anjing dan kucing akan berduyun-duyun mendatanginya. Selain itu, bau tak sedap pun pasti akan menyebar kemana-mana.

2. Penimbunan Tanah Secara Sehat (Sanitary Land Fill)

Nah, kalau kita ingin menimbun tanah rendah menggunakan sampah jenis rubbish dan garbage sekaligus maka cara mengolah sampah inilah yang paling tepat. Sebab, kemungkinan didatangi binatang kotor dan menimbulkan batu tak sedap hampir-hampir tidak ada. Caranya, sampah dibuang dan dibiarkan menggunung seperti cara land fill diatas. Tetapi, setelah sampah mencapai ketinggian yang diinginkan, permukaan atasnya segera ditimbun tanah. Lapisan tanah ini sedikitnya harus setebal 60 cm. Pemusnahan dan sekaligus pemanfaatan sampah dengan cara ini memang membutuhkan biaya lebih besar dan curahan waaktu serta tenaga lebih banyak, tetapi lebih aman dan tidak merugikan kehidupan masyarakat.

3. Pembakaran Sampah (Incineration)

Membakar sampah yang sudah terkumpul seperti sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia. Kebanyakan dilakukan oleh masyarakat pinggiran kota dan di daerah pedesaan. Barangkali karena cara ini memang yang paling praktis. Hanya saja, jika cara membakarnya asal-asalan maka asap pembakaran akan mengotori udara dan mengganggu pernapasan. Sisa sampah yang belum terbakar sempurna akan bertebaran kemana-mana. Karena itu, dianjurkan agar setiap kali membakar sampah harus diusahakan sampai apinya berkobar, sehingga sampah bisa langsung habis dilalap api tanpa tersisa sedikitpun.

4. Penghancuran (Pulverisation)

Beberapa kota besar di Indonesia saat ini telah memiliki mobil pengumpul sampah yang sekaligus juga telah dilengkapi alat pelumat sampah. Sampah yang berasal dari bak-bak penampung langsung diolah dengan cara menghancurleburkannya menjadi potongan-potongan kecil sehingga lebih ringkas. Tak jadi soal apakah sampah itu hanya rubbish atau garbage saja ataukah bahkan kedua-duanya. Sampah lumat ini selain dimanfaatkan untuk menimbun tanah rendah juga bisa dibuang ke laut tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan.

5. Pengomposan (Composting)

Telah banyak lembaga usaha swasta yang memanfaatkan buangan sampah untuk dibuat pupuk kompos dan kemudian dipasarkan secara komersial. Pada prinsipnya langkah-langkah pengomposan secara fabrikasi yang mereka tempuh adalah sebagai berikut :

  1. Sampah-sampah tak lapuk dan tak mudah lapuk, seperti barang-barang buangan yang terbuat dari kaca, mika, plastik, besi dan juga bongkah-bongkah semen beton disisihkan dan dibuang. Sehingga yang tersisa hanyalah sampah yang mudah lapuk saja.
  2. Selanjutnya, sampah dihancurleburkan menggunakan mesin khusus sampai lumat. Manfaatnya, agar nantinya proses pembusukan sampah (decomposting) oleh mikroorganisme pembusuk dapat berlangsung dengan baik.
  3. Sampah kemudian ditimbun secara teratur dalam suatu hamparan tertutup yang bisa diawasi suhu, tingkat kelembapan dan aliran udaranya menggunakan alat khusus. Perlakuan semacam ini akan membuat proses pembusukan sampah berlangsung optimal. Walaupun demikian, pembusukan bisa pula dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Sampah yang telah digiling cukup dihamparkan begitu saja tertimpa sinar matahari selama beberaa hari sampai membusuk dengan sempurna. Kompos yang dalam pembuatannya dilapisi pula dengan lumpur dasar sungai ternyata hasilnya jauh lebih baik dibandingkan dengan jika tidak dilapisi lumpur. Proses memperoses sampah ini biasanya berlangsung antara 2 hari hingga 6 minggu, bergantung dengan cara penanganannya.
  4. Setelah kompos jadi, segera dikeringkan kemudian digiling. SEtelah dikemas dengan baik, maka kompos pabrik ini siap dipasarkan.

Tapi jangan dulu khawatir, kompos juga bisa dibuat oleh perorangan tanpa perlu alat-alat mesin serba berat seperti di balik. Hasilnya ditanggung tidak beda jauh mutunya dengan kompos pabrik. Yang penting, asal cara pembuatannya benar. Nah, uraian lebih jauh dan lebih mendalam tentang pembuatan kompos untuk satuan rumah tangga ini akan dikupas dalam artikel tersendiri.

6. Makanan Ternak (Hogfeeding)

Sampah jenis garbage, seperti sisa sayuran, ampas tapioka, ampas tahu bisa dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Daripada sampah-sampah itu dibuang percuma, memang akan jauh lebih baik kalau dibuang ke dalam perut ternak saja.

7. Pemanfaatan Ulang (Recycling)

Sampah-sampah yang sekiranya masih bisa diolah kembali, dipunggut dan dikumpulkan. Contohnya adalah kertas-kertas, pecahan kaca, botol beas, logam-logam, potongan plastik dan sebagainya. Sehingga dari sampah semacam ini dapat dibuat kembali karton, kardus pembungkus, alat-alat dan perangkat rumah tangga dari plastik dan kaca. Tapi perlu diingat, jangan sampah demikian dimanfaatkan atau termanfatkan lagi. Misalnya kertas-kertas dari tempat sampah dimanfaatkan begitu saja untuk membungkus kudapan atau makanan. Yang begini ini jelas dapat membahayakan kesehatan.