Pengolahan Limbah Padat Industri Tapioka

Limbah padat pada industri tapioka yang dihasilkan dari pengolahan ubi kayu merupakan suatu media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme karena memiliki keseimbangan bahan-bahan organik dan anorganik di dalamnya yang merupakan nutrisi bagi pertumbuhan mikroorganisme.

Limbah Padat Tapioka

Upaya pengolahan limbat padat tapioka, selain sebagai bentuk penanggulangan pencemaran lingkungan, juga berdampak pada peningkatan nilai ekonomi, pengurangan konsumsi pupuk kimia dan peningkatan daya guna limbah padat tapioka.

Limbah adat industri tapioka ini berasal dari proses pengupasan yaitu berupa kulit singkong dan proses ekstraksi yang berupa ampas singkong. Limbah padat dari industri tapioka terbagi menjadi beberapa macam, yaitu :

  1. Kulit yang berasal dari pengupasan ubi kayu/singkong.
  2. Sisa-sisa potongan ubi kayu/singkong yang tidak terparut (berasal dari proses pemarutan).
  3. Ampas onggok yang merupakan sisa dari proses ekstraksi pati dengan air, terdiri dari sisa-sisa pati dan serat-serat.

Industri tapioka ini sudah cukup baik dalam pemanfaatan dan penanganan limbah padatnya. Kulit singkong bagian dalam dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan kulit bagian luarnya dibakar. Ampas singkong yang dihasilkan dari proses ekstraksi, dibentuk terlebih dahulu menjadi bongkahan kecil lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Ampas singkong yang telah kering atau yang lebih dikenal dengan sebuta acia kemudian dijual kepada pihak yang membutuhkan.

Saat ini pemanfaatan onggok sudah sangat berkembang, mulai dari pakan ternak, bahan baku asam sitrat, bahan pengisi obat nyamuk bakar sampai produk pangan seperti bahan pengisi saus dan sambal serta bioethanol. Biomassa lain yang dihasilkan adalah kulit dan potongan kecil-kecil ubi kayu atau lebih dikenal sebagai meniran. Biomassa ini umumnya digunakan sebagai pakan atau dikomposkan untuk dijadikan pupuk.

Pupuk merupakan zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik maupun bahan anorganik. Salah satu contoh dari pupuk organik adalah pupuk kompos. Pupuk kompos merupakan hasil penguraian bahan organik. Proses penguraiannya dapat dipercepat oleh mikroorganisme.

Pupuk organik yang dikomposkan telah melalui proses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba baik dalam kondisi aerob maupun an aerob sehingga mudah diserap oleh tanaman. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti sisa-sisa tanaman (kulit, ampas, batang dan dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak, arang sekam dan abu dapur. Secara umum kandungan nutrisi dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak.

Cara Pembuatan Kompos dari Limbah Tapioka

Pengomposan dapat dilakukan secara anaerob dan aerob. Cara anaerob memerlukan waktu 1,5 sampai 2 bulan dan sering menghasilkan kompos dengan bau kurang sedap, karena suhu yang dihasilkan kurang tinggi sehingga tidak mematikan organisme pengganggu.

Pembuatan Kompos Secara Anaerob

  1. Masukkan bahan baku secara berlapis-lapis mulai dari sisa taaman, kemudian pupuk kandang, abu sekam atau abu dapur ke dalam lubang yang telah disiapkan sebelumnya yang dasarnya telah dipadatnya agar tidak terjadi rembesan air. Ukuran lubang dapat disesuaikan menurut ketersediaan tenaga kerja dan bahan baku yang tersedia, misalnya lubang ukuran 2 x 1 m dengan kedalaman 1 m cukup untuk memproses sekitar 0,5 – 0,8 ton kompos guna sekitar 0,2 sampai 0,3 hektar lahan.
  2. Tutp bagian atas permukaan dengan tanah setebal 5 – 10 cm dan semprotkan air sebanyak 30 liter pada permukaan kompos setiap 10 hari dan aduklah seluruh bahan dalam lubang setelah satu bulan pengomposan.
  3. Biarkan berlangsung selama 1,5 – 2 bulan agar proses pengomposan dapat sempurna. Untuk mempercepat waktu pengomposan dapat digunakan mikroba selulolitik atau lignolitik yang berperan sebagai decomposer, antara lain Biodec, Stardec atau Em-4.

Pembuatan Kompos Secara Aerob

  1. Bahan baku komos disusun berlapis kemudian disiram dengan larutan mikroba hingga mencapai kebasahan 30-40% atau dengan ciri bila dikepal dengan tangan, air tidak keluar dan bilan kepalan dilepas bahan baku akan melar.
  2. Bahan baku digundukkan sampai setinggi 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni atau karung plastik.
  3. Suhu kompos diperiksa setiap hari, pertahankan suhu pada kisaran 40-50 derajat celcius. Jika suhu lebih tinggi, komos diaduk sampai suhunya turun dan ditutup kembali.
  4. Setelah 3-5 hari, bahan baku sudah menjadi kompos (bokashi) dan siap untuk digunakan.

Kulit singkong dapat diproses menjadi pupuk organik yang kemudian disebut dengan pupuk kompos. Menurut penelitian (Akanbi,2007) kompos kulit singkong bermanfaat sebagai sumber nutrisi bagi tumbuhan dan berpotensi sebagai insektisida tumbuhan. Penggunaan pupuk kompos kulit singkong ini memiliki banyak keuntungan diantaranya adalah mengurangi permasalahan limbah dan meningkatkan nilai jual dari kulit singkong itu sendiri karena digunakan sebagai pupuk.

Pembuatan Pupuk Organik Cair

Pemberian pupuk melalui penyemprotan adalah salah satu cara yang efektif untuk memperbaiki kekurangan dan ketidakmampuan tanah untuk memindahkan nutrisi ke tanaman. Oleh karena itu, pupuk kompos yang telah dibuat dapat dijadikan sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan efisiensinya. Pembuatannya dengan cara pupuk kompos limbah tapioka yang telah dibuat sebelumnya diekstrak menggunakan air.

Berdasarkan hasil penelitian (Muthi, 2017) pupuk yang terbuat dari limbah tapioka dapat dibuat dalam bentuk pupuk cair. Aplikasi dari penerapan pupuk cair yang terbuat dari limbah tapioka ini, diuji coba dengan menyemprotkan pada daun tanaman hias daun terbukti dapat membuat daun tanaman hias tersebut tumbuh dengan sangat baik.

Tinggalkan komentar